{"id":4335,"date":"2020-07-07T09:04:29","date_gmt":"2020-07-07T09:04:29","guid":{"rendered":"https:\/\/neonmetin.info\/buletin\/?p=4335"},"modified":"2020-07-07T09:12:43","modified_gmt":"2020-07-07T09:12:43","slug":"solidaritas-untuk-menyelamatkan-arte-moris-timor-leste","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/neonmetin.info\/buletin\/2020\/07\/07\/solidaritas-untuk-menyelamatkan-arte-moris-timor-leste\/","title":{"rendered":"Solidaritas untuk Menyelamatkan Arte Moris, Timor-Leste"},"content":{"rendered":"\n<p><strong><em>Penulis Dr. Khoo Ying Hooi\u00a0\u00a0 <\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Saya terganggu dengan laporan berita kelmarin tentang keputusan oleh Perdana Menteri Timor-Leste, Taur Matan Ruak untuk menyerahkan Arte Moris untuk dijadikan sebagai kantor Majlis Veteran. <\/p>\n\n\n\n<p>Saya menulis sebuah komentar tentang Arte Moris pada\ntahun 2017, dengan judul, \u201cBagaimana Seni Menyembuhkan dan Menggembleng Pemuda\nTimor-Leste\u201d yang awalnya muncul dalam portal, The Conversation. Komentar itu\ndengan tidak disangka telah dibagi secara luas di pelbagai portal termasuk Asia\nTimes, Huffington Post dan Myanmar Times. Penyebaran secara meluas tentang\nkomentar itu menunjukkan wujudnya minat tinggi terhadap politik dan seni di\nTimor-Leste dari pelbagai pelosok dunia dan juga pentingnya wacana sebegitu. <\/p>\n\n\n\n<p>Didirikan pada tahun 2003, setahun setelah pemulihan independen\nTimor-Leste pada tahun 2002, Arte Moris menawarkan tempat bagi pemuda Timor\nuntuk mengekspresikan diri melalui seni sambil membantu mereka mengikat dan\nberbagi nilai-nilai positif tentang negara mereka. Arte Moris dimulai sebagai\nsebuah projek kecil oleh pasangan Swiss dengan sekelompok anak muda, Arte Moris\nperlahan-lahan berubah menjadi ruang publik yang dikenal luas terutama untuk\nanak muda Timor termasuk anak-anak untuk kelas seni gratis.&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Di sebuah negara seperti Timor-Leste yang masih\ntercari-cari identitas, dan di mana nasionalisme sebahagian besar telah dibangunkan\nberlandaskan budaya lokal tradisional dengan tantangan untuk menjauhkan diri\ndari pengaruh kekuatan kolonial sebelumnya, peranan seni tidak dapat diabaikan.\nOrang-orang muda dan anak-anak mencari identitas mereka pada usia yang sangat\nmuda dengan mengamati dan mengenali lingkungan di sekitar mereka dalam mencari\nsiapa mereka dan Arte Moris telah menyediakan ruang sebegitu bagi mereka.&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Pada tahun pendiriannya, Arte Moris juga dianugerahi\nPenghargaan Hak Asasi Manusia PBB untuk advokasi kebebasan berekspresi. Tetapi\ntujuan Arte Moris bukan hanya untuk mempromosikan seni. Ia turut memiliki visi\nyang lebih besar yaitu harapan untuk membantu orang Timor membangun kembali\nkehidupan mereka setelah perjuangan kemerdekaan berdarah yang panjang yang\ntelah membunuh seperempat penduduknya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sesiapa pun yang pernah berada di Timor-Leste akan\nmelihat betapa pentingnya mural dan grafiti, karena ini adalah salah satu alat\nkomunikasi paling inklusif di negara kecil ini.&nbsp;\n<\/p>\n\n\n\n<p>Orang sering bertanya, bagaimana saya belajar tentang\npolitik dan hak asasi manusia di Timor-Leste? Ini karena Timor-Leste masih agak\nterisolasi dalam wacana di kawasan Asia Tenggara, dan ada banyak kesalahpahaman\ntentang negara yang indah ini juga.&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Saya harus mengakui bahwa saya tidak mempelajari negara\nini dari buku-buku atau tokoh-tokoh terkenal. Saya belajar dari orang-orang\nyang saya temui selama perjalanan untuk tujuan yang berbeda. Pada tahun 2010,\nsaya menulis karya pertama saya tentang hak asasi manusia di Timor-Leste. Pada tahun\n2013, saya mengunjungi negara itu untuk pertama kalinya di bawah tugasan resmi,\nlalu mulai tahun 2016 dan berlanjut hingga hari ini.&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Arte Mori adalah sebuah sekolah seni gratis yang harus\ndiakui sebagai titik balik tentang bagaimana saya belajar politik dan hak asasi\nmanusia melalui penghargaan pendekatan \u201cbottom-up\u201d. Melalui orang-orang di\njalanan dan di komunitas, mereka telah banyak membantu dalam terus membentuk\npandangan saya tentang negara ini, di mana saya akan selamanya berhutang\nbudi.&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Saya sangat berharap pemerintah Timor-Leste dapat\nmempertimbangkan kembali keputusannya dan mengizinkan Arte Moris untuk\nmelanjutkan keberadaannya sebagai ruang publik untuk seni. Kreativitas dan originaliti\nseniman anak-anak Timor di Arte Moris dan juga di seluruh negara sangat\ndikagumi. Mereka mewakili kenyataan yang berlaku di negara itu. Arte Moris\ntelah mendapatkan pengakuannya di dunia; namun sayang sekali kalau tidak\ndihargai di tanahnya sendiri. Saat ini, status Arte Moris terancam. Pelestarian\nwarisan budaya di Timor-Leste adalah penting, dan itu juga sama dalam pelestarian\ndan promosi mengenai nilai budaya bangunan bersejarah seperti Arte Moris.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Dr. Khoo Ying Hooi adalah dosen senior di Departemen Studi Internasional dan Strategis, Fakultas Seni dan Ilmu Sosial, Universiti Malaya, Malaysia.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis Dr. Khoo Ying Hooi\u00a0\u00a0 Saya terganggu dengan laporan berita kelmarin tentang keputusan oleh Perdana Menteri Timor-Leste, Taur Matan Ruak untuk menyerahkan Arte Moris untuk dijadikan sebagai kantor Majlis Veteran. Saya menulis sebuah komentar tentang Arte Moris pada tahun 2017, dengan judul, \u201cBagaimana Seni Menyembuhkan dan Menggembleng Pemuda Timor-Leste\u201d yang awalnya muncul dalam portal, The [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":4338,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[60],"tags":[],"class_list":["post-4335","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-analisa"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/neonmetin.info\/buletin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4335","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/neonmetin.info\/buletin\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/neonmetin.info\/buletin\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/neonmetin.info\/buletin\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/neonmetin.info\/buletin\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4335"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/neonmetin.info\/buletin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4335\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4344,"href":"https:\/\/neonmetin.info\/buletin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4335\/revisions\/4344"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/neonmetin.info\/buletin\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4338"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/neonmetin.info\/buletin\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4335"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/neonmetin.info\/buletin\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4335"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/neonmetin.info\/buletin\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4335"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}