Home Analisa Kamera Lawan Kekuasaan: Pembantaian Santa Cruz dan Pesta Babi

Kamera Lawan Kekuasaan: Pembantaian Santa Cruz dan Pesta Babi

0
59

Santa Cruz-Pesta Babi (AI)

By Ato Lekinawa Costa

Film dokumenter sering dipahami sebagai medium yang paling dekat dengan kenyataan. Berbeda dengan film fiksi yang membangun dunia melalui imajinasi, dokumenter bekerja dengan realitas: tubuh manusia yang nyata, penderitaan yang sungguh terjadi, dan sejarah yang meninggalkan luka konkret. Namun dokumenter tidak pernah benar-benar netral. Kamera selalu memilih apa yang ingin dilihat, siapa yang diberi suara, dan siapa yang dibiarkan diam. Karena itu, dokumenter pada dasarnya adalah arena politik: tempat kekuasaan dipertontonkan, dipertanyakan, bahkan dilawan.

Ketika Kamera Membongkar Wajah Kekuasaan

Dalam konteks ini, dokumenter Pesta Babi dan film dokumenter mengenai Pembantaian Santa Cruz, 12 November 1991 yang berjudul In Cold Blood: The Massacre of East Timor menghadirkan dua bentuk pembacaan terhadap kekuasaan. Keduanya berbicara tentang relasi antara manusia dan struktur dominasi, tetapi melalui pendekatan yang berbeda. Jika dokumenter Santa Cruz memperlihatkan kekerasan negara secara langsung dan brutal, maka Pesta Babi menghadirkan kritik yang lebih simbolik terhadap praktik kekuasaan sosial dan politik. Meski berbeda secara estetika dan konteks, kedua film tersebut sama-sama menunjukkan bahwa kamera bukan sekadar alat merekam kenyataan, melainkan alat untuk membongkar mekanisme kekuasaan yang sering disembunyikan.

Film dokumenter Santa Cruz memiliki posisi historis yang sangat penting dalam perjalanan Timor-Leste. Peristiwa Santa Cruz menjadi titik balik internasionalisasi perjuangan rakyat Timor-Leste melawan pendudukan Indonesia. Ketika ribuan anak muda melakukan prosesi dari Gereja Motael ke pemakaman Santa Cruz untuk mengenang Sebastião Gomes, militer Indonesia merespons dengan kekerasan terbuka. Ratusan orang ditembak, disiksa, dikejar, dipenjarakan dan hilang. Namun yang membuat tragedi ini mengguncang dunia bukan hanya pembantaiannya sendiri, melainkan fakta bahwa kamera berhasil menangkapnya.

Rekaman Max Stahl menjadi bukti visual yang menghancurkan propaganda negara. Selama bertahun-tahun, rezim Orde Baru membangun citra bahwa integrasi Timor-Timur berlangsung damai dan didukung rakyat. Kamera Max Stahl meruntuhkan narasi tersebut. Tubuh anak-anak muda yang roboh diterjang peluru memperlihatkan wajah asli kekuasaan negara yang mempertahankan legitimasi melalui kekerasan.

Di sinilah film dokumenter bekerja bukan hanya sebagai karya seni, tetapi juga sebagai tindakan politik. Kamera tidak lagi netral; ia menjadi saksi. Bahkan lebih jauh, kamera menjadi ancaman bagi kekuasaan. Negara dapat mengontrol media resmi, tetapi sulit menghapus gambar yang sudah menyebar ke dunia internasional. Dalam konteks ini, dokumenter Santa Cruz menunjukkan bahwa instrumen media visual memiliki kemampuan politik yang luar biasa. Gambar dapat menghancurkan legitimasi lebih cepat daripada pidato politik.

Papua, Oligarki, dan Kekerasan yang Disamarkan

Sementara itu, Pesta Babi bergerak dalam wilayah yang lebih simbolik sekaligus struktural. Film ini tidak semata-mata berbicara tentang kekerasan fisik, melainkan tentang bagaimana masyarakat membangun dan mempertahankan relasi kuasa melalui budaya, ritual, dan praktik sosial sehari-hari. Babi dalam film tersebut dapat dibaca sebagai metafora: tentang kerakusan, konsumsi kekuasaan, atau bahkan tentang manusia yang larut dalam sistem sosial yang menindas dirinya sendiri.

Namun yang paling menonjol dari Pesta Babi adalah bagaimana film tersebut memperlihatkan relasi antara oligarki korporasi, negara, dan eksploitasi sumber daya alam di Papua. Kamera tidak hanya merekam penderitaan masyarakat adat, tetapi juga memperlihatkan bagaimana pembangunan sering dijalankan melalui aliansi antara kekuasaan politik dan kepentingan ekonomi besar. Hutan dibuka atas nama investasi dan proyek strategis nasional, sementara masyarakat lokal justru kehilangan tanah, ruang hidup, dan kontrol atas kekayaan alam mereka sendiri.

Dalam konteks ini, Pesta Babi menjadi kritik terhadap oligarki modern di Indonesia. Oligarki tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan militer terbuka seperti yang terlihat dalam tragedi Santa Cruz, tetapi bekerja melalui jaringan korporasi, izin investasi, proyek pembangunan, dan kontrol ekonomi. Film tersebut menunjukkan bahwa eksploitasi terhadap Papua bukan hanya persoalan pembangunan, melainkan persoalan distribusi kekuasaan dan keuntungan. Kekayaan alam Papua diekstraksi untuk kepentingan elit politik dan korporasi, sementara masyarakat adat sering diposisikan sebagai hambatan terhadap kemajuan.

Karena itu, kekerasan dalam Pesta Babi bersifat lebih struktural. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk tembakan atau pembantaian, tetapi dalam bentuk penghilangan ruang hidup, kerusakan ekologis, marginalisasi masyarakat adat, dan ketimpangan ekonomi yang terus diproduksi oleh sistem oligarkis.

Jika Santa Cruz memperlihatkan negara sebagai mesin kekerasan yang terbuka, maka Pesta Babi memperlihatkan bagaimana kekuasaan bekerja secara lebih halus dan tersembunyi. Di sini kita dapat melihat relevansi pemikiran Michel Foucault tentang kekuasaan. Bagi Foucault, kekuasaan tidak hanya bekerja melalui senjata atau hukum, tetapi juga melalui norma sosial, budaya, dan disiplin sehari-hari. Kekuasaan hidup dalam kebiasaan, simbol, dan cara masyarakat memahami dirinya sendiri.

Melalui pendekatan semacam itu, Pesta Babi menjadi kritik terhadap masyarakat yang tanpa sadar ikut mereproduksi struktur dominasi. Kamera dalam film tersebut tidak hanya merekam penderitaan korban, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sistem kekuasaan memaksa sebagian masyarakat untuk terlibat dalam struktur yang sebenarnya merugikan mereka sendiri. Inilah perbedaan penting dengan dokumenter Santa Cruz. Dalam Santa Cruz, garis antara pelaku dan korban tampak jelas: negara berhadapan dengan rakyat sipil. Jika dalam Santa Cruz kekuasaan tampil secara langsung melalui kekerasan militer, maka dalam Pesta Babi kekuasaan bekerja melalui jaringan oligarki politik dan ekonomi yang mengeksploitasi masyarakat adat Papua.

Namun kedua film dokumenter tersebut bertemu dalam satu hal penting: keduanya memperlihatkan tubuh manusia sebagai lokasi utama kekuasaan bekerja. Di Santa Cruz, tubuh-tubuh demonstran menjadi sasaran peluru dan kekerasan militer. Negara menunjukkan dominasinya dengan mengontrol tubuh rakyat melalui rasa takut. Tetapi justru melalui tubuh-tubuh yang jatuh itu, lahir solidaritas internasional yang memperkuat perjuangan kemerdekaan Timor-Leste.

Menariknya, kedua film dokumenter tersebut juga menghadirkan simbol salib yang dapat dibaca sebagai representasi penderitaan dan perlawanan rakyat kecil di bawah struktur kekuasaan. Dalam dokumenter Santa Cruz, salib hadir secara literal melalui ruang pemakaman Katolik yang menjadi lokasi pembantaian. Tubuh-tubuh muda yang roboh di bawah salib kuburan menciptakan citra visual tentang martir dan pengorbanan dalam perjuangan kemerdekaan Timor-Leste. Sementara itu, dalam Pesta Babi, simbol religius dan spiritualitas Papua dapat diinterpretasikan sebagai ironi moral di tengah eksploitasi tanah dan hutan oleh negara dan korporasi. Salib dalam kedua film pada akhirnya tidak hanya melambangkan penderitaan, tetapi juga ketahanan moral rakyat yang terus bertahan menghadapi kekerasan negara, oligarki, dan perampasan ruang hidup mereka.

Dalam Pesta Babi, tubuh juga memainkan peran simbolik. Tubuh manusia terlibat dalam ritual, konsumsi, dan praktik sosial yang merefleksikan struktur kekuasaan tertentu. Dengan kata lain, tubuh tidak pernah netral. Ia selalu menjadi arena tempat kekuasaan dipertontonkan dan dinegosiasikan.

Hal lain yang menarik dibandingkan dari kedua film ini adalah cara mereka membangun memori kolektif. Dokumenter Santa Cruz bekerja sebagai arsip sejarah. Ia menjaga ingatan bangsa terhadap tragedi yang pernah berusaha disembunyikan negara. Dalam masyarakat pascakolonial seperti Timor-Leste, memori semacam ini sangat penting karena sejarah sering kali menjadi medan perebutan politik. Negara kolonial atau rezim otoriter biasanya berusaha mengontrol narasi sejarah agar kekerasan mereka terlupakan.

Karena itu, dokumenter Santa Cruz bukan hanya tentang masa lalu. Ia adalah bentuk perlawanan terhadap pelupaan. Setiap kali rekaman itu diputar, negara kembali dipaksa menghadapi sejarahnya sendiri. Dokumenter tersebut mengingatkan bahwa kemerdekaan Timor-Leste dibangun di atas darah anak-anak muda yang tubuhnya pernah terbaring di pemakaman Santa Cruz.

Sebaliknya, Pesta Babi tampaknya lebih fokus pada kritik terhadap kondisi sosial yang terus berlangsung. Jika Santa Cruz berbicara tentang trauma sejarah yang spesifik, maka Pesta Babi berbicara tentang kekuasaan yang hidup dalam keseharian. Film ini tidak selalu menawarkan momen heroik seperti demonstrasi atau perjuangan nasional. Justru kekuatannya terletak pada kemampuannya menunjukkan banalitas kekuasaan: bagaimana ketidakadilan dapat terlihat normal karena telah menjadi bagian dari budaya dan rutinitas sosial.

Di sinilah kedua film dokumenter memberikan pelajaran penting tentang politik visual. Banyak orang mengira kekuasaan hanya hadir dalam bentuk represif seperti tentara, penjara, atau senjata. Padahal kekuasaan juga bekerja melalui simbol, ritual, dan cara berpikir masyarakat. Santa Cruz memperlihatkan wajah kekuasaan yang kasar dan berdarah. Pesta Babi memperlihatkan wajah kekuasaan yang lebih lembut namun tetap menindas.

Dari Santa Cruz ke Era Media Sosial

Namun perbedaan terbesar antara kedua film dokumenter tersebut tidak hanya terletak pada isi film, melainkan juga pada konteks media yang mengelilinginya. Dokumenter Santa Cruz lahir pada awal 1990-an ketika Indonesia masih berada di bawah rezim Orde Baru. Pada masa itu, negara memiliki kontrol yang sangat kuat terhadap televisi, surat kabar, radio, dan distribusi informasi. Rekaman pembantaian Santa Cruz memang mengguncang dunia internasional, tetapi sebagian besar masyarakat Indonesia sendiri tidak pernah melihatnya secara langsung. Negara mampu membatasi sirkulasi gambar dan membangun narasi resmi bahwa peristiwa di Timor-Timur hanyalah persoalan keamanan terhadap kelompok separatis.

Kondisi tersebut sangat berbeda dengan era ketika Pesta Babi diproduksi dan didiskusikan. Film ini hadir di tengah perkembangan internet dan media sosial yang telah mengubah secara radikal hubungan antara kamera, publik, dan kekuasaan. Jika pada era Santa Cruz negara masih dapat mengontrol arus informasi secara vertikal, maka pada era digital hari ini distribusi informasi menjadi jauh lebih horizontal. Film dokumenter tidak lagi bergantung pada televisi nasional atau bioskop besar. Potongan video, trailer, poster, diskusi, bahkan kontroversi dapat menyebar dengan cepat melalui YouTube, Instagram, X/Twitter, TikTok, WhatsApp, dan berbagai platform digital lainnya.

Kehadiran internet membuat kamera tidak lagi berdiri sendirian sebagai alat dokumentasi, tetapi menjadi bagian dari jaringan produksi narasi yang lebih luas. Penonton tidak lagi hanya menjadi konsumen pasif. Mereka dapat mengomentari, menyebarkan, memotong ulang, mendebat, bahkan menjadikan dokumenter sebagai bagian dari gerakan sosial digital. Dalam konteks ini, pengaruh Pesta Babi menjadi lebih besar di Indonesia bukan semata karena isi filmnya, tetapi juga karena ekosistem digital yang memungkinkan film tersebut terus hidup dalam percakapan publik.

Menariknya, media sosial juga mengubah logika sensor dan pelarangan. Pada masa Orde Baru, pelarangan pemutaran film dokumenter sering kali efektif karena akses distribusi sangat terbatas. Namun di era internet, pelarangan justru sering menghasilkan efek sebaliknya. Ketika sebuah diskusi dibubarkan atau pemutaran film dilarang, informasi tentang pelarangan itu sendiri segera viral dan menarik rasa ingin tahu publik yang lebih luas. Dalam dunia digital, kontroversi dapat berubah menjadi promosi gratis.

Karena itu, Pesta Babi memiliki ruang resonansi yang jauh lebih besar di kalangan masyarakat Indonesia dibanding dokumenter Santa Cruz pada awal kemunculannya. Generasi muda Indonesia hari ini tumbuh dalam budaya internet yang membuat mereka lebih terbuka terhadap perspektif alternatif tentang negara, pembangunan, hak masyarakat adat, dan kekerasan struktural. Mereka juga hidup di tengah krisis kepercayaan terhadap elit politik dan oligarki ekonomi, sehingga kritik sosial dalam Pesta Babi terasa lebih dekat dengan pengalaman kontemporer mereka.

Sebaliknya, dokumenter Santa Cruz muncul ketika narasi nasionalisme Orde Baru masih sangat dominan. Banyak masyarakat Indonesia pada masa itu dibentuk untuk melihat Timor-Timur sebagai bagian sah dari Indonesia dan perlawanan rakyat Timor-Leste sebagai ancaman terhadap persatuan nasional. Karena itu, meskipun rekaman Santa Cruz sangat kuat secara moral dan visual, ruang publik Indonesia saat itu belum memungkinkan munculnya diskusi yang luas dan terbuka.

Meski demikian, bukan berarti dokumenter Santa Cruz tidak berpengaruh. Pengaruhnya justru sangat besar di tingkat internasional. Rekaman tersebut membantu mengubah opini dunia terhadap pendudukan Indonesia di Timor-Timur. Gambar-gambar tubuh muda yang ditembak di pemakaman Santa Cruz menghancurkan legitimasi moral rezim Orde Baru di mata internasional. Dengan kata lain, jika Pesta Babi bekerja terutama dalam ruang digital domestik Indonesia, maka dokumenter Santa Cruz bekerja sebagai senjata diplomatik global bagi perjuangan kemerdekaan Timor-Leste.

Dari sisi sinematik, kedua film juga menggunakan strategi berbeda untuk menghasilkan efek politik. Dokumenter Santa Cruz memiliki kekuatan karena kedekatannya dengan peristiwa nyata. Kamera yang bergerak tidak stabil, suara tembakan, dan kepanikan massa menciptakan pengalaman visual yang intens. Penonton tidak diberi jarak aman untuk sekadar menjadi pengamat. Mereka dipaksa menyaksikan kekerasan secara langsung.

Sebaliknya, Pesta Babi lebih reflektif dan simbolik. Penonton diajak membaca makna di balik gambar. Film ini bekerja bukan terutama melalui shock, tetapi melalui kontemplasi. Kamera menjadi alat observasi terhadap struktur sosial yang sering dianggap biasa. Dengan demikian, jika Santa Cruz mengguncang emosi melalui tragedi terbuka, maka Pesta Babi mengguncang kesadaran melalui simbolisme sosial.

Kamera Sebagai Perlawanan Terhadap Lupa

Meski demikian, kedua film sama-sama menegaskan bahwa dokumenter tidak pernah sekadar merekam kenyataan. Kamera selalu memiliki posisi politik. Dalam konteks negara otoriter, kamera bisa menjadi alat perlawanan. Dalam konteks kritik sosial, kamera bisa menjadi alat pembongkar ideologi. Karena itu, dokumenter seharusnya tidak dipahami hanya sebagai hiburan atau produk artistik, melainkan juga sebagai praktik intelektual dan politik.

Yang menarik, kedua film dokumenter tersebut juga memperlihatkan pentingnya generasi muda dalam menghadapi kekuasaan. Dalam Santa Cruz, anak-anak muda tampil sebagai subjek sejarah. Mereka bukan sekadar korban pasif, melainkan aktor politik yang menantang dominasi negara meski harus membayar dengan nyawa. Keberanian mereka menunjukkan bahwa kesadaran politik sering lahir justru dalam situasi penindasan.

Dalam Pesta Babi, masyarakat adat dapat dibaca sebagai kelompok yang hidup di tengah kontradiksi sosial modern. Mereka menghadapi sistem yang tidak bekerja melalui kekerasan langsung, tetapi melalui normalisasi budaya dan ketimpangan sosial. Dengan demikian, perjuangan melawan kekuasaan hari ini mungkin tidak selalu berbentuk revolusi bersenjata, tetapi bisa berbentuk kesadaran kritis terhadap sistem sosial yang menindas secara halus.

Pada akhirnya, Pesta Babi dan dokumenter Santa Cruz menunjukkan bahwa kamera memiliki kekuatan moral dan politik yang besar. Kamera dapat menjadi saksi ketika negara membunuh rakyatnya. Kamera juga dapat membongkar bagaimana masyarakat tanpa sadar hidup dalam struktur dominasi. Dalam kedua kasus tersebut, dokumenter bekerja sebagai ruang untuk mempertanyakan legitimasi kekuasaan.

Di tengah dunia yang semakin dipenuhi propaganda visual dan manipulasi informasi, dokumenter semacam ini menjadi semakin penting. Ia mengingatkan bahwa melihat bukanlah tindakan yang netral. Cara kita melihat menentukan cara kita memahami sejarah, kekuasaan, dan kemanusiaan. Melalui kamera, kedua film tersebut memperlihatkan bahwa kekuasaan selalu ingin mengontrol narasi. Tetapi selama masih ada kamera yang berpihak pada kebenaran, selalu ada kemungkinan bagi rakyat untuk melawan lupa dan mempertahankan martabatnya.

NO COMMENTS