Home Analisa Solidaritas untuk Menyelamatkan Arte Moris, Timor-Leste

Solidaritas untuk Menyelamatkan Arte Moris, Timor-Leste

2008
0
Imajen joven sira iha Arte Moris. [Foto: Copyright Facebook | 07.07.2020]

Penulis Dr. Khoo Ying Hooi  

Saya terganggu dengan laporan berita kelmarin tentang keputusan oleh Perdana Menteri Timor-Leste, Taur Matan Ruak untuk menyerahkan Arte Moris untuk dijadikan sebagai kantor Majlis Veteran.

Saya menulis sebuah komentar tentang Arte Moris pada tahun 2017, dengan judul, “Bagaimana Seni Menyembuhkan dan Menggembleng Pemuda Timor-Leste” yang awalnya muncul dalam portal, The Conversation. Komentar itu dengan tidak disangka telah dibagi secara luas di pelbagai portal termasuk Asia Times, Huffington Post dan Myanmar Times. Penyebaran secara meluas tentang komentar itu menunjukkan wujudnya minat tinggi terhadap politik dan seni di Timor-Leste dari pelbagai pelosok dunia dan juga pentingnya wacana sebegitu.

Didirikan pada tahun 2003, setahun setelah pemulihan independen Timor-Leste pada tahun 2002, Arte Moris menawarkan tempat bagi pemuda Timor untuk mengekspresikan diri melalui seni sambil membantu mereka mengikat dan berbagi nilai-nilai positif tentang negara mereka. Arte Moris dimulai sebagai sebuah projek kecil oleh pasangan Swiss dengan sekelompok anak muda, Arte Moris perlahan-lahan berubah menjadi ruang publik yang dikenal luas terutama untuk anak muda Timor termasuk anak-anak untuk kelas seni gratis. 

Di sebuah negara seperti Timor-Leste yang masih tercari-cari identitas, dan di mana nasionalisme sebahagian besar telah dibangunkan berlandaskan budaya lokal tradisional dengan tantangan untuk menjauhkan diri dari pengaruh kekuatan kolonial sebelumnya, peranan seni tidak dapat diabaikan. Orang-orang muda dan anak-anak mencari identitas mereka pada usia yang sangat muda dengan mengamati dan mengenali lingkungan di sekitar mereka dalam mencari siapa mereka dan Arte Moris telah menyediakan ruang sebegitu bagi mereka. 

Pada tahun pendiriannya, Arte Moris juga dianugerahi Penghargaan Hak Asasi Manusia PBB untuk advokasi kebebasan berekspresi. Tetapi tujuan Arte Moris bukan hanya untuk mempromosikan seni. Ia turut memiliki visi yang lebih besar yaitu harapan untuk membantu orang Timor membangun kembali kehidupan mereka setelah perjuangan kemerdekaan berdarah yang panjang yang telah membunuh seperempat penduduknya.

Sesiapa pun yang pernah berada di Timor-Leste akan melihat betapa pentingnya mural dan grafiti, karena ini adalah salah satu alat komunikasi paling inklusif di negara kecil ini. 

Orang sering bertanya, bagaimana saya belajar tentang politik dan hak asasi manusia di Timor-Leste? Ini karena Timor-Leste masih agak terisolasi dalam wacana di kawasan Asia Tenggara, dan ada banyak kesalahpahaman tentang negara yang indah ini juga. 

Saya harus mengakui bahwa saya tidak mempelajari negara ini dari buku-buku atau tokoh-tokoh terkenal. Saya belajar dari orang-orang yang saya temui selama perjalanan untuk tujuan yang berbeda. Pada tahun 2010, saya menulis karya pertama saya tentang hak asasi manusia di Timor-Leste. Pada tahun 2013, saya mengunjungi negara itu untuk pertama kalinya di bawah tugasan resmi, lalu mulai tahun 2016 dan berlanjut hingga hari ini. 

Arte Mori adalah sebuah sekolah seni gratis yang harus diakui sebagai titik balik tentang bagaimana saya belajar politik dan hak asasi manusia melalui penghargaan pendekatan “bottom-up”. Melalui orang-orang di jalanan dan di komunitas, mereka telah banyak membantu dalam terus membentuk pandangan saya tentang negara ini, di mana saya akan selamanya berhutang budi. 

Saya sangat berharap pemerintah Timor-Leste dapat mempertimbangkan kembali keputusannya dan mengizinkan Arte Moris untuk melanjutkan keberadaannya sebagai ruang publik untuk seni. Kreativitas dan originaliti seniman anak-anak Timor di Arte Moris dan juga di seluruh negara sangat dikagumi. Mereka mewakili kenyataan yang berlaku di negara itu. Arte Moris telah mendapatkan pengakuannya di dunia; namun sayang sekali kalau tidak dihargai di tanahnya sendiri. Saat ini, status Arte Moris terancam. Pelestarian warisan budaya di Timor-Leste adalah penting, dan itu juga sama dalam pelestarian dan promosi mengenai nilai budaya bangunan bersejarah seperti Arte Moris.

Dr. Khoo Ying Hooi adalah dosen senior di Departemen Studi Internasional dan Strategis, Fakultas Seni dan Ilmu Sosial, Universiti Malaya, Malaysia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here